Waspada Penyakit AHPND pada Udang

18 Jan 2023 13:50:10 | Dilihat 78 kali
AHPND (Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease) pertama kali muncul di Tiongkok pada 2009 dan dikenal dengan sebutan covert mortality disease. AHPND dalam budidaya udang telah meningkat sejak akhir 2013, yang menyebabkan industri perikanan di Asia Selatan collapse. Penyakit ini berkembang cepat dengan mortalitas hingga 100% selama kurang dari 40 hari setelah masa tebar. Adapun organ target dari AHPND adalah organ pencernaan seperti Hepatopankreas, Usus dan Lambung. 

Gejala AHPND
Gejala klinis yang nampak pada udang yang terserang AHPND adalah warna badan pucat dan kekuningan, hepatopankreas pucat dan mengkerut serta usus dan lambung yang kosong (tidak ada pakan).
Berdasarkan kepadatan bakteri dan gambaran histologis, udang yang terkena AHPND dibagi menjadi tiga fase :
  • Fase Awal
Udang menunjukkan tanda-tanda kerusakan di hepatopankreas dengan sebagian atau seluruh ususnya kosong. Perubahan pada saluran pencernaan dan hepatopankreas akibat AHPND pada fase ini akan terlihat jelas ketika dilakukan pembedahan dengan menghilangkan membran epitel.
  • Fase Akut
Pada fase akut, udang yang terkena AHPND menunjukkan tanda-tanda anoreksia dan kelesuan dengan saluran pencernaan kosong serta hilangnya pigmentasi jaringan. Hepatopankreas menjadi berhenti berkembang dan tampak berwarna keputihan. 
Berdasarkan hasil penelitian, selama fase akut tidak ada sel bakteri yang diamati pada jaringan yang terkena AHPND. Hal tersebut menunjukkan bahwa bakteri penyebab AHPND mengeluarkan racun biner, yaitu Pir A dan Pir B yang menyebabkan infeksi pada udang. Racun Pir A dan Pir B mengikat dan menginduksi kerusakan pada sel epitel tubulus hepatopankreas.
  • Fase Terminal
Mirip dengan fase akut, udang pada fase terminal AHPND mengalami anoreksia, lesu dan perut benar-benar kosong. Secara mikroskopis, kromatofor meluas secara signifikan dan hepatopankreas mengalami atrofi, berwarna keputihan dan akan terlihat seperti berserat.

Penyebab AHPND
V. parahaemolyticus merupakan spesies dominan penyebab AHPND pada udang yang berupa bakteri Gram-negatif dan non-spora yang mengandung racun Pir A dan Pir B yang mematikan. Umumnya, bakteri vibrio rentan menyerang udang ketika padat tebar terlalu tinggi, salinitas tinggi (> 20 ppt) dan kualitas air yang buruk.

Petambak harus segera waspada dan mencurigai adanya kemungkinan terserang AHPND pada udang di tambaknya jika mengalami beberapa hal berikut :
  1. Udang mati dalam jumlah banyak di dasar kolam 
  2. Pola kematian terus menerus (persistent & progresif)
  3. Gerakan larva lemah dan berputar
  4. Terjadi kematian mendadak pada stadia larva dan pasca larva sampai >30%. 

Kontrol dan Pencegahan AHPND
Biosekuriti yang ketat perlu diterapkan untuk mencegah penyakit ini masuk selama proses budidaya. Manajemen kualitas air memegang peranan penting selama proses budidaya karena air sebagai media hidup udang sekaligus media penularan penyakit. Treatment air penting dilakukan pada semua tahapan budidaya yang meliputi treatment tandon sumber air, maintenance kualitas air di kolam dan pengolahan limbah. 

Penerapan teknologi nanobubble di tambak dapat meningkatkan kualitas air selama proses budidaya. Teknologi nanobubble memproduksi gelembung nano yang stabil dan menghasilkan dissolved oxygen yang tinggi. Adapun manfaat  dissolved oxygen tinggi  yang dihasilkan mesin nanobubble yaitu : 
  1. Meningkatkan kualitas air selama proses budidaya
  2. Menjamin ketersediaan oksigen di malam hari
  3. Merangsang proses autolisis pada bakteri, meningkatkan reaksi lisis biologi dan mengurangi produksi lumpur. 
  4. Mengurangi bakteri penyebab penyakit dan infeksi.

Teknologi nanobubble menghambat mekanisme reproduksi bakteri penyebab AHPND dengan mengganggu dinding sel dan menghambat pembelahan melalui proses oksidasi dari radikal bebas (ORP). Selain meningkatkan kualitas air, penggunaan nanobubble selama proses budidaya juga terbukti dapat mengefisiensikan penggunaan pakan dengan nilai FCR 1,1 dibanding kolam tanpa nanobubble sebesar 1,5.  
Baca juga : Mengapa FCR penting

Penulis            : Zakia Dwi Puspa
Editor             : Afridha Setia Jayanti

Sumber : 
[1] Lestantun, et al. 2020. Peran biosecurity dalam pengendalian penyakit pada benih udang vanamei di Banten. Sumber (11):2.
[2] Kumar et al. 2021.  Acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND): virulence, pathogenesis and mitigation strategies in shrimp aquaculture. Toxins, 13(8): 524. 
[3] Rahmawati et al, 2020. Enhancement of Penaeus Vannamei Shrimp Growth Using Nanobubble in Indoor Raceway Pond. Aquaculture and Fisheries, https://doi.org/10.1016/j.aaf.2020.03.005