Proses Udang Molting

19 Okt 2021 12:00:53 | Dilihat 238 kali
Molting atau pergantian kulit pada udang biasa terjadi ketika udang mengalami perbesaran volume tubuh sementara ukuran eksoskeleton tidak bertambah besar karena sifatnya yang kaku. Eksoskeleton yang dimiliki udang terbentuk dari kandungan kitin, garam kalsium, protein dan lemak. Untuk menyesuaikan hal tersebut, cangkang (kutikula) lama akan terlepas dengan sendirinya kemudian digantikan cangkang baru setelah proses molting selesai. Proses molting pada udang terjadi seiring dengan bertambahnya usia pada udang. Udang mengalami molting antara tiga sampai delapan minggu dan prosesnya tidak memakan waktu yang lama. Biasanya cangkang baru akan terbentuk hingga mengeras dalam hitungan jam. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya molting pada udang, pengaruh kondisi luar atau eksternal berupa komposisi kimia air, temperatur air, substrat dasar, dan ketersediaan pakan. Adapun pengaruh internal yaitu berupa sifat genetik, dan kondisi fisiologis pada udang.

Proses Molting Udang
Ketika udang gagal dalam proses molting, udang akan mengalami kematian. Kematian udang tanpa cangkang juga biasa terjadi karena kekurangan mineral. Kemudian hal yang menyebabkan gagalnya molting adalah kondisi air yang kurang baik dimana kandungan mineral tidak stabil, terlalu seperti tinggi atau terlalu rendah. Hal tersebut menyebabkan kadar kalsium air kurang baik, padahal kalsium tersebut diperlukan oleh udang dalam pembentukan cangkang baru. Udang dapat melakukan molting dengan baik jika kualitas air, kandungan oksigen terlarut (DO), kadar mineral, dan pH terjaga. 
Ketika cangkang lama udang sudah terlepas, biasanya cangkang tersebut akan mengendap di dasar kolam. Sebaiknya, cangkang lama tersebut dibiarkan mengendap dan terlarut dalam air karena cangkang lama tersebut mengandung mineral yang baik untuk pertumbuhan udang.

Tahapan molting pada udang, diantaranya:
  1. Post-molt, fase ini terjadi setelah proses pelepasan eksoskeleton lama. Pada fase ini udang menyerap banyak air agar mampu memperkuat kutikula baru yang akan menyesuaikan bentuk tubuh. Setelah eksoskeleton lama terlepas, cangkang baru akan mulai mengeras dalam hitungan jam atau hari.
  2. Molt, merupakan fase pelepasan kulit lama yang diikuti dengan penyerapan air dari media dalam jumlah besar. Tahap ini dimulai melemasnya otot-otot anggota tubuh, sehingga memungkinkan untuk terlepas dari eksoskeleton lama. 
  3. Inter-molt, fase ini eksoskeleton semakin mengeras disebabkan protein dan mineral yang menyatu. Pertumbuhan bobot udang semakin bertambah sehingga aktivitas makan udang semakin bertambah hingga maksimal.
  4. Pre-molt, fase sebelum molting ini, udang mempersiapkan tubuhnya untuk proses molting selanjutnya. Nafsu makan pada udang juga semakin menurun dan lapisan kutikula mulai tumbuh.

Antisipasi Molting Massal
Hal-hal yang dapat diperhatikan saat fase udang molting, yaitu dengan mengecek fase molting secara rutin yaitu dengan mencatat dan mengecek sampling udang, sehingga dapat memprediksi siklus molting udang. Kemudian menjaga kualitas air, dalam budidaya udang kualitas air memiliki peran yang penting dan salinitas air agar tidak turun secara drastis agar udang tidak mengalami shock. Mengatur pola pemberian pakan pada udang sehingga udang tidak makan berlebih yang berpotensi mempengaruhi kualitas air yang memicu serangan penyakit pada udang. Dan yang terakhir yaitu pemberian mineral seperti fosfor dan kalsium yang dapat mempercepat tumbuhnya cangkang baru pada udang.

Nanobubble sebagai solusi keberhasilan udang molting
Kualitas air cukup berperan besar dalam keberhasilan proses molting pada udang. Penggunaan teknologi tepat guna seperti mesin Nanobubble dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas air kolam sehingga proses molting udang berjalan lancar. Nanobubble menjadi teknologi aerasi modern dimana memproduksi gelembung udara berukuran 80-200 nm yang efektif dalam proses transfer gas. Kandungan oksigen tinggi yang dihasilkan mesin nanobubble dapat mensuplai kebutuhan oksigen sehingga udang lebih sehat dan tumbuh dengan cepat. Nanobubble juga dapat meningkatkan efisiensi pakan, mencegah timbulnya virus dan bakteri selama proses budidaya serta meningkatkan survival rate. Penggunaan mesin nanobubble ini menjadi pilihan yang tepat bagi para pembudidaya yang ingin meningkatkan padat tebar dan produktivitas kolamnya.

(Baca juga : Mengapa FCR Penting)

Penulis             : Afridha Setia Jayanti
Editor              : Zakia Dwi Puspa Ramadina

Sumber: 
[1] Nur Aisyah, Agus Tri Yusufi Mardiana. 2017. Analisis Pemanfatan Dolomit Dalam Pakan Terhadap Periode Molting Udang Vaname (Litopenaeus Vannamei) Di Tambak UNIKAL. PENA Akuatika Volume 16.
[2] Tahap Molting Udang. https://www.minapoli.com/info/tahap-molting-pada-udang diakses pada 12 Oktober 2021
[3] Pentingnya Mineral Untuk Proses Molting pada Udang. https://fistx.co.id/2021/02/11/pentingnya-mineral-untuk-proses-molting-pada-udang/  diakses pada 12 Oktober 2021