Perbedaan Udang dan Lobster: Anatomi, Tingkah Laku dan Budidaya

01 Okt 2020 12:00:00 | Dilihat 122 kali

 

 

Perbedaan Udang dan Lobster: Anatomi, Tingkah Laku dan Budidaya

Indonesia yang merupakan negara maritim yang terkenal dengan sumber daya laut yang melimpah. Kondisi geografis Indonesia yang sesuai dalam mendukung budidaya perikanan membuat sektor perikanan menjadi salah satu sektor unggulan Indonesia dalam kegiatan ekspor ke luar negeri. Udang dan lobster merupakan komoditas perikanan yang dibudidayakan di Indonesia, baik yang dibudidayakan di air tawar maupun di air laut. Lobster dan udang termasuk dalam famili crustacea yang memiliki antena dibagian kepala dan tubuh yang bersegmen. Lobster umumnya memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan udang sehingga dapat mudah dibedakan dari udang. Namun, apabila belum pernah melihat secara langsung, kemungkinan Anda akan mengalami kesulitan dalam membedakan antara udang dan lobster. Berikut merupakan beberapa perbedaan tambahan antara udang dan lobster, baik secara anatomi maupun proses budidaya, yang dapat menambah wawasan Anda.

Lobster memiliki kerangka luar yang lebih keras dibanding udang
Lobster memiliki kerangka luar (eksoskeleton) yang lebih tebal dan keras dibanding udang.  Kerangka luar pada udang cenderung lebih tipis bila dibandingkan dengan lobster. Eksoskeleton pada udang terlihat lebih transparan bila dibandingkan dengan lobster. Eksoskeleton juga menyelubungi bagian kaki lobster dan udang. Lobster dan udang umumnya memiliki 5 pasang kaki (decapoda) pada tubuhnya. Kaki pada udang lebih rapuh dibandingkan dengan lobster karena lebih tipis dan kecil. 

Udang melayang di air sedangkan lobster merayap di dasar perairan
Udang cenderung memanfaatkan struktur tubuhnya (terutama bagian perut) dalam melakukan pergerakan. Kaki halusnya membantu pergerakannya saat berenang di perairan. Udang cenderung jarang berjalan di dasar perairan dan hanya bertengger. Untuk pergergerakan udang umumnya bergerak dengan berenang melayang di air. Sebaliknya, lobster menggunakan kakinya untuk berjalan di dasar perairan. Selain itu, baik udang maupun lobster dapat bergerak dengan cepat ketika hendak menghindar dengan menggunakan ekornya. Pergerakan ini disebut dengan caridoid escape reaction, yang mana dilakukan dengan menekuk ekor lalu menghempaskannya. 

Udang Aktif Berenang di Malam Hari
alam penelitian Pontes dan kawan-kawan (2006) tentang pergerakan harian dari udang vannamei. Diketahui bahwa pada malam hari udang vannamei sangat aktif berenang. Sedangkan, pada siang hari cenderung tidak aktif melakukan pergerakan. Kebutuhan energi untuk berenang di malam hari menyebabkan udang membutuhkan lebih banyak oksigen di malam hari. Sehingga, kadar oksigen terlarut air tambak pada malam hari bisa drop. Lobster tidak melakukan pergerakan seaktif udang, hal ini menyebabkan kebutuhan oksigen udang cenderung lebih tinggi dibanding lobster karena memiliki pola pergerakan yang membutuhkan energi lebih banyak dari lobster.

Waktu budidaya lobster lebih lama dibanding udang
Lobster memerlukan waktu selama 10 bulan untuk menyelesaikan satu siklus budidaya. Bahkan, apabila hendak dibudidayakan hingga mencapai ukuran besar memerlukan waktu 5 hingga 8 tahun. Masalah lain pada ketersediaan benih. Benih lobster cenderung sulit untuk dibudidayakan secara buatan, saat ini kebutuhan benih lobster masih dilakukan melalui penangkapan di alam bebas. Terbatasnya ketersediaan benih serta waktu budidaya yang cenderung lama membuat lobster memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan udang. Disisi lain, udang dapat menyelesaikan satu siklus budidaya hanya dengan waktu 6 bulan. Benih udang juga sudah banyak dibudidayakan di berbagai daerah di Indonesia sehingga tidak harus memanen benih di alam bebas. 

Kanibalisme pada Lobster Lebih Besar Dibandingkan dengan Udang
Famili crustacea memiliki tingkah laku kanibalisme yang menjadi salah satu faktor pembatas dalam produktifitas dan profitaabilitas dari proses budidaya. Udang memiliki tingkat kanibalisme yang tidak seagresif pada lobster. Pada crustacean yang kurang agresif seperti udang, potensi kanibalisme dapat diatasi dengan mengurangi heterogenitas ukuran udang, mengurangi ukuran padat tebar, menyediakan shelter untuk meminimalisir resistansi fisik, dan mengoptimasi kualitas dan kuantitas dari pakan. Akan tetapi strategi tersebut belum cukup untuk mengatasi kanibalisme dari spesies yang agresif sepeti kepiting dan lobster. 

Kesimpulan
Lobster dan udang termasuk dalam komoditas unggulan pada sektor perikanan di Indonesia. Lobster umumnya memiliki ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan udang sehingga dapat dengan mudah dibedakan dari udang. Selain ukuran, hal lain yang dapat membedakan antara lobster dan udang yakni kerangka luar lobster yang lebih kuat dibanding udang, pergerakan lobster yang merangkak di dasar perairan sedangkan udang berenang melayang di air, serta waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan satu siklus budidaya lobster yang lebih lama dibandingkan udang. Pemenuhan benih lobster yang masih mengandalkan ketersediaan di alam bebas juga masih menjadi tantangan yang perlu diselesaikan agar pembudidayaan lobster dapat berkelanjutan.

Sumber:

Julita. (2010, April 22). Difference Between Shrimp and Lobster. Retrieved September 24, 2020, from http://www.differencebetween.net/object/comparisons-of-food-items/difference-between-shrimp-and-lobster/

2. IMPROVING POND WATER QUALITY. (n.d.). Retrieved September 21, 2020, from http://www.fao.org/tempref/FI/CDrom/FAO_Training/FAO_Training/General/x6709e/x6709e02.htm

Heitler WJ, Fraser K, Ferrero EA. Escape behaviour in the stomatopod crustacean Squilla mantis, and the evolution of the caridoid escape reaction. J Exp Biol. 2000;203(Pt 2):183-192.

Taridala, S. A. A., et al. (2019). Income and cost efficiency of lobster farming in Soropia, Southeast Sulawesi, Indonesia. IOP Conf. Ser.: Earth Environ. Sci. 382 012037

Romano, N., & Zeng, C. (2016). Cannibalism of Decapod Crustaceans and Implications for Their Aquaculture: A Review of its Prevalence, Influencing Factors, and Mitigating Methods. Reviews in Fisheries Science & Aquaculture, 25(1), 42–69.

Pontes, C. S., Arruda, M. D., Menezes, A. A., & Lima, P. P. (2006). Daily activity pattern of the marine shrimp Litopenaeus vannamei (Boone 1931) juveniles under laboratory conditions. Aquaculture Research, 37(10), 1001-1006.