Nanobubble, Startup Lokal yang Ingin 'Bahagiakan Udang'

25 Apr 2019 09:36:55 | Dilihat 164 kali

Jakarta - Saat ini mungkin belum ada startup di sektor perikanan yang namanya dikenal luas di Indonesia. Tapi, siapa tahu dalam beberapa tahun ke depan, Nanobubble akan menjadi salah satu startup yang sukses dari sektor ini. 

Startup yang tampil gemilang di Thinkubator Startup Competition ini memiliki misi yang sederhana yaitu 'membahagiakan udang'. Dengan memanfaatkan teknologi nano dan internet of things (IoT) mereka ingin membantu meningkatkan hasil panen dan kesejahteraan petambak udang. 

Walaupun baru mulai berkolaborasi pada tahun 2018, setahun sebelumnya Hardi telah mulai mengembangkan mesin aerator berteknologi nano. Tidak hanya itu, mesin ini juga diintegrasikan dengan IoT sehingga bisa diakses oleh petambak melalui smartphone mereka. 

Fungsi utama mesin ini adalah untuk menghasilkan gelembung nano yang dapat meningkatkan kadar oksigen di dalam air. Dalam keadaan normal, kadar oksigen di air sekitar 2-4 ppm, tapi dengan teknologi Nanobubble bisa meningkat hingga dua kali lipat. 

Air dengan kadar oksigen yang lebih tinggi tentu memiliki kualitas yang lebih tinggi. Selain itu juga bisa mempercepat pertumbuhan udang serta mengatasi virus dan bakteri.

Mesin yang dipakai nanobubble terbilang cukup canggih dan jika diimpor pun mahal. Tapi mereka mampu membuat dan mematenkan sendiri dengan peneliti Fisika LIPI, lalu memberikannya secara gratis kepada mitra petambak dengan sistem bagi hasil 20% dari setiap keuntungan.

"Kalau misalnya masih berbayar mungkin petani atau petambak masih mikir ya apa mungkin teknologi ini bisa berfungsi dengan baik di lapangan. Tapi kita coba gratiskan agar mereka tertarik untuk bisa memakai teknologi kami dan meningkatkan hasil panen mereka," ucap Hardi.

Walaupun baru seumur jagung, Nanobubble sudah memiliki kisah sukses. Mereka telah membantu sekitar empat petambak dan meningkatkan hasil panen mereka empat kali lipat dibanding hasil panen biasanya.

Mereka juga berhasil menggandeng lembaga pemerintah untuk membantu mengembangkan tambak udang di Situbondo, Jawa Timur. 

"Untuk tambak mitra kita di Situbondo. Jadi kita masih dengan KKP ya, Kementerian Kelautan dan Perikanan di Situbondo. Tepatnya Balai Budidaya Perikanan Air Payau Situbondo, tempat riset udang dan kerapu," kata Dedi dalam kesempatan yang sama. 

Dipilihnya udang sebagai komoditas yang menjadi fokus Nanobubble juga bukan tanpa alasan. Menurut Dedi, udang merupakan salah satu komoditas ekspor terbaik dari Indonesia.

"Jadi hampir dominan perikanan 60% dari udang," ujarnya. 

Walaupun saat ini masih fokus untuk membantu petambak udang, Nanobubble sudah tidak sabar untuk menerapkan teknologinya di tambak, bahkan sektor lainnya. 

Teknologi ini juga sudah mulai digunakan untuk tambak kerapu dan bandeng, bahkan untuk pertanian hidroponik. 

Sukses mendapatkan pendanaan terbesar senilai Rp 825 juta dari Thinkubator ternyata bukan sesuatu yang diperkirakan oleh Nanobubble. Apalagi mengingat lima finalis lainnya juga tidak kalah hebat.

"Alhamdulilah bersyukur dapat hadiah yang diluar perkiraan ya. Tapi kita juga terinspirasi dari rekan-rekan yang lain. Kita kompetisi sehat, kita bersaing sehat," kata Dedi

Nanobubble pun telah memiliki segudang rencana untuk memanfaatkan pendanaan ini. Salah satunya mereka ingin mengembangkan mesin yang bisa digunakan untuk tambak berukuran 1.000 meter persegi. 

Selain itu, mereka juga membutuhkan dana untuk operasional perusahaan, apalagi saat ini tim Nanobubble juga sudah semakin besar, dengan total 11 orang.
Tidak hanya itu, dengan pendanaan ini mereka juga berharap bisa membuat teknologi ini tersedia bagi lebih banyak petambak di Indonesia. Saat ini, Nanobubble sendiri telah hadir di tiga kota yaitu Situbondo, Cilacap dan Sukabumi.

"Kita masih fokus di Jawa, karena masih mayoritas ya petambak pesisir kita masih di Jawa. Tapi jika Jawa sudah sukses kita akan expand ke luar Jawa, terutama ke Sulawesi dan Sumatera," kata Dedi.