Kincir Air pada Tambak Udang dan Kaitannya dengan Konsentrasi Oksigen Terlarut

01 Mar 2021 15:45:17 | Dilihat 859 kali

Salah satu aspek terpenting dalam pengelolaan kualitas air tambak budidaya adalah Konsentrasi oksigen terlarut. Suplai oksigen tentunya dibutuhkan bagi ekosistem perairan agar udang tetap hidup dan juga segar. Udang membutuhkan suplai oksigen yang cukup untuk menjalankan sistem metabolisme tubuhnya. Saat konsentrasi oksigen di bawah 3 mg/L, maka dapat membuat stress pada udang dan menurunkan daya tahan tubuhnya. Jika konsentrasi oksigen menyentuh angka dibawah 1,5 mg/L maka dalam beberapa jam dapat mematikan udang.

Besar konsumsi oksigen dari udang dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya suhu lingkungan, suhu lingkungan ini akan mempengaruhi reaksi enzimatik dari tubuh udang sendiri, setiap kenaikan suhu sebesar 10c akan meningkatkan konsumsi oksigen 2 hingga 3 kali lipat, selain itu size dari udang juga berpengaruh terhadap besar konsumsi oksigennya, udang yang masih berukuran kecil akan mengkonsumsi oksigen lebih tinggi karena dalam masa pertumbuhannya memerlukan lebih banyak energi serta laju metabolisme yang lebih tinggi dibandingkan dengan udang yang berukuran besar.

Kincir air pada tambak udang merupakan komponen yang berperan untuk meningkatkan kualitas air sebagai sumber oksigen terlarut. Fungsi kincir di tambak udang yaitu akan menimbulkan pergerakan air dalam tambak serta akan menghasilkan semburan aliran air dengan percikan air yang kuat. Hal ini akan menciptakan gelembung udara ke dalam air dan membentuk sistem aerasi secara mekanis. Dengan adanya kincir maka akan membantu menaikkan konsentrasi oksigen terlarut ketika air mengalami kekurangan oksigen dan membantu mengurangi CO2 yang berlebih. 

Fungsi lain dari penggunaan kincir yaitu membantu proses pemupukan air.  Proses ini dilakukan dalam upaya pembentukkan kualitas air yang berhubungan dengan kecerah dan warna air kolam tambak, dengan menstimulasi kestabilan pertumbuhan phytoplankton. (Baca juga: Warna air tambak yang baik untuk udang vaname).

Dasar kolam yang menjadi tempat tinggal udang memiliki ketersediaan oksigen yang terbatas. Sisa pakan, kotoran, plankton dan bahan organik lainnya banyak mengendap di dasar kolam, kondisi ini pastinya akan diikuti dengan pertumbuhan bakteri pengurai yang juga memiliki kebutuhan oksigen. Sedimen tersendiri memiliki konsumsi oksigen berkisar 1 mg/L hingga 10 mg/L tergantung dari intensitas budidaya. Kincir air di tambak udang akan membantu mengurangi kandungan karbon dioksida berlebih dengan menciptakan difusi ke permukaan.

Para pembudidaya menggunakan kincir sebagai upaya memastikan konsentrasi oksigen terlarut dalam kolam mereka dapat mencukupi kebutuhan oksigen udang yang dibudidaya, konsentrasi oksigen ini harus selalu dipantau setiap harinya. Pengecekan sebaiknya dilakukan setiap pagi mulai dari pukul 5.00 hingga 6.00 pagi dan siang hari pukul 12.00 hingga 14.00. Pada jam tersebut merupakan titik kritis yang bisa menggambarkan bagaimana kondisi perairan tambak. Jam 5.00-6.00 merupakan titik terendah oksigen terlarut dan pH serta kandungan karbondioksida tertinggi. Pada jam 12.00-14.00 merupakan puncak dari proses fotosintesis fitoplankton, kandungan oksigen terlarut serta pH air.

Hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan kincir air pada tambak udang menurut Jala.tech(2020) adalah kepadatan tebar dari udang, jika kepadatan tinggi maka memerlukan jumlah kincir yang lebih banyak dibandingkan dengan kepadatan tebar yang rendah. DOC udang juga mempengaruhi, jika udang masih tahap benur memerlukan kincir yang lebih sedikit dibandingkan dengan udang yang juga berukuran besar. Semua kembali kepada kebutuhan konsumsi oksigen dari udang yang dibudidayakan.

Selain menggunakan kincir, terdapat teknologi lain yang dapat meningkatkan oksigen terlarut pada air tambak, seperti mesin nanobubble . Mesin ini dapat meningkatkan kelarutan oksigen hingga 2x lipat dari kadar oksigen awal. Saat ini, mesin nanoubble telah tersebar lebih dari 80 unit di seluruh Indonesia dan membantu berkontribusi meningkatkan hasil panen udang dan komoditas perikanan budidaya lainnya.

Sumber:

Tampangallo B, Suwoyo H, dan Septiningsih E.2014.PENGARUH PENGGUNAAN KINCIR SEBAGAI SUMBER ARUS TERHADAP PERFORMANSI UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) PADA BUDIDAYA SISTEM SUPER INTENSIF. Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur 2014

Budiardi T, Batara T, dan Wahjuningrum D. 2005. TINGKAT KONSUMSI OKSIGEN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DAN MODEL PENGELOLAAN OKSIGEN PADA TAMBAK INTENSIF. Jurnal Akuakultur Indonesia, 4 (1): 89–96

Supono.2017. Teknologi Produksi Udang. Plantaxia. Yogyakarta

Jala. 2020. Tips Menentukan Letak dan Jumlah Kincir (App.jala.tech)