Beberapa Hal Penting dalam Budidaya Udang Vaname

04 Mei 2021 15:21:28 | Dilihat 502 kali
1. Sumber Air
Air merupakan faktor penting dalam proses budiddaya udang vaname karena seluruh fase hidup udang berada di dalam air. Sumber air yang baik akan menjadikan udang lebih sehat selama proses budidaya.
Menurut Permen KP Nomor 75 Tahun 2016 tentang Pedoman Umum Pembesaran Udang Windu (Penaeus monodon) dan Udang Vaname (Litopenaeus vanamei), kualitas sumber air yang sesuai untuk tambak udang adalah sebagai berikut:
 

Parameter Air

Satuan
Tingkat Teknologi Tambak
Sederhana Semi Intensif Intensif Super Intensif
Suhu °C 28-32 28-30 28-30 28-30
Salinitas ppt 5-40 10-35 26-32 26-32
Amonia mg/L < 0,01 < 0,01 ≤ 0,1 ≤ 0,1
Nitrat mg/L 0,5 0,5 0,5 0,5
Bahan organik mg/L 55 55 ≤ 90 ≤ 90
Total Fosfat mg/L 0,1 0,1 0,1-5 0,1-5
Alkali mg/L 100-250 80-150 100-150 100-150
pH - 7,5-8,5 7,5-8,5 7,5-8,5 7,5-8,5
 
2. Jenis Tambak
Saat hendak membuat tambak udang, perlu dilakukan pemilihan jenis tambak yang sesuai dengan budget dan tujuan pembuatan. Terdapat 4 jenis tambak dengan teknologi yang berbeda yaitu tambak ekstensif/tradisional, semi intensif, intensif dan super intensif.
Jenis tambak ekstensif dikenal dengan padat tebar yang rendah, sehingga memiliki tingkat produktifitas yang juga rendah. Akan tetapi, tingkat perawatan yang dilakukan pada tambak ekstensif lebih mudah sehingga risiko udang terkena penyakit lebih rendah. Padat tebar tambak ekstensif umunya berkisar antara 3.000-8.000 ekor/ha. Sedangkan tambak semi intensif memiliki padat tebar yang lebih tinggi dari tambak ekstensif tetapi tidak terlalu rapat, sekitar 10.000-20.000 ekor/ha. 
Tambak intensif biasanya menggunakan kolam tanah langsung, namun dapat juga menggunakan lapisan untuk mengurangi tingkat erosi tanah. Kedalaman kolam tambak juga dibuat lebih dari 1 meter, sehingga udang dapat bergerak bebas. Tambak intensif memiliki padat tebar sekitar 20.000-50.000 ekor/ha. Tambak super intensif memiliki padat tebar lebih tinggi dari ketiga tambak lainnya, akan tetapi jenis tambak ini membutuhkan biaya yang cukup mahal. Hal tersebut karena oksigen yang dibutuhkan pada tambak lebih banyak sehingga perlu alat supaly oksigen yang cukup banyak. Kedalaman tambak intensif juga harus ditingkatkan menjadi sekitar 2,6 m agar udang tidak terlalu sesak.

3. Suplai Oksigen Terlarut
Selain air, oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) merupakan faktor penting yang mempengaruhi kehidupan udang. DO di dalam tambak digunakan untuk proses respirasi dan mendegradasi bahan organik juga sisa pakan. Rendahnya kadar DO dalam tambak meningkatkan toksisitas yang berujung pada kematian massal. Suplay DO pada tambak dapat menggunakan aerator, kincir dan nanobubble. Menurut Bagas, petambak udang intensif, penggunaan teknologi nanobubble dapat meningkatkan DO hingga 10-12 ppm, meningkat dua kali lipat dibandingkan  aerator dan kincir yang maksimal DO hanya mencapai 6 ppm. 

Nanobubble merupakan teknologi aerasi modern yang mensuplai oksigen dalam tambak dengan ukuran gelembung nano (80-200 nm). Ukuran gelembung yang kecil sangat stabil dan mampu bertahan lebih lama dalam air sehingga menjaga ketersediaan oksigen terlarut di tambak budidaya udang bahkan saat terjadi krisis DO pada malam hari. Dengan teknologi nanobubble, ketersediaan DO di tambak lebih besar sehingga dapat meningkatkan jumlah padat tebar udang pada tambak budidaya.

4. Pemilihan Benur
Pemilihan benur menjadi hal yang perlu diperhatikan selanjutnya. Benur yang dipilih harus dalam keadaan sehat dan tidak terkena penyakit sebelum di tebar. Virus dan penyakit yang menyerang benur akan menulari benur yang lain dalam tambak sehingga kemungkinan dapat menyebabkan mortalitas massal.
Selain itu, benur yang dipilih harus memiliki ukuran yang seragam. Umumnya udang akan tumbuh sesuai dengan ukuran awal, jadi apabila benur yang dipilih tidak berukuran seragam maka saat panen pun ukurannya akan tetap tidak sama. Adapun dalam proses panen, udang dilihat dari ukurannya dimana udang diambil secara random sampling dari kolam. Ukuran yang tidak seragam akan menyebabkan perhitungan hasil panen tidak akurat dan menimbulkan kerugian bagi petambak.


Benur yang hendak ditebar juga harus tidak dalam kondisi stress pasca pengiriman. Saat proses pengiriman, benur akan di anestesi sehingga perlu disadarkan terlebih dahulu sebelum ditebar. Proses penyadarannya dapat dilakukan dengan cara memutar-mutar plastik benur. Benur dalam kondisi baik akan melawan arus, sedangkan apabila benur mengikuti arus maka dapat disimpulkan benur tersebut dalam keadaan stress. Benur yang stress tidak boleh langsung ditebar agar meminimalisir tingkat mortalitas. 
Proses pengiriman benur dari hatchery ke tambak menjadi tantangan tersendiri. Oksigen yang diinjeksikan ke dalam kantong benur harus memiliki konsentrasi yang tinggi agar benur tetap hidup selama perjalanan. Teknologi nanobubble telah diterapkan dalam proses pengiriman benur dimana oksigen yang diberikan dapat mencapai 40 ppm. Hal tersebut meminimalisir terjadinya defisit oksigen sehingga meningkatkan survival rate serta mengurangi stress benur akibat proses pengiriman.


 

5. Pemilihan Pakan
Protein merupakan salah satu faktor penentu dalam pemilihan pakan. Pakan dengan kadar protein tinggi biasanya memiliki aroma yang lebih tajam sehingga menjadi daya tarik lebih bagi udang. Namun, tingginya kadar protein tersebut menghasilkan tingkat amonia yang tinggi dalam sistem budidaya. Pemilihan pakan dengan kadar protein 30% sudah cukup baik untuk digunakan pada budidaya udang vaname, dimana kebutuhan protein udang vaname terpenuhi dan tidak mencemari lingkungan.

6. Pemeliharaan Tambak Budidaya
Saat proses budidaya udang vaname sudah berlangsung, pemeliharaan tambak menjadi hal penting yang harus diperhatikan. Proses pemeliharaan tambak perlu dilakukan agar udang tidak stress. Kualitas air menjadi aspek yang paling krusial dan perlu pemantauan secara periodik. Teknologi modern IoT (Internet of Things) dapat menjadi solusi dalam proses preventif dan pengukuran kualitas air. IoT nanobubble bekerja dengan cara interaksi antara sesama mesin yang terhubung secara otomatis tanpa campur tangan user dan dalam jarak jauh. Tujuan penerapan IoT pada budidaya udang vaname ini untuk mempermudah proses pengukuran kualitas air serta mengevaluasi hasilnya agar mengurangi potensi kegagalan panen.

Penulis: Zakia Dwi Puspa Ramadina

Sumber
[1]  A. Sudrajat, Azwar, Z.I., Hadi, L.E, Haryanti, Giri, N.A., & Sumiarsa, G.S. 2005. Buku
Perikanan Budidaya Berkelanjutan. Pusat Riset Perikanan Budidaya. Badan Riset Kelautan dan Perikanan, hlm. 67–72.
[2]  Bagas, Interview. 2020. Beberapa Hal terkait Tips Budidaya Udang Vaname. Serang
[3] Permen KP no 75 tahun 2016. http://bkipm.kkp.go.id/bkipmnew/public/files/regulasi/75-permen-kp-2016-ttg-pedoman-umum-pembesaran-udang-windu.pdf, diakses pada 30 April 2021.
[4] Rianto, A. 2019. 4 Jenis Tambak Udang dengan Padat Tebarnya. https://www.isw.co.id/post/2019/03/11/4-jenis-tambak-dengan-tingkat-padat-tebarnya, diakses pada 30 April 2021